Selasa, 15 November 2016

Pengalaman sebagai Pembelajaran



Pengalaman sebagai Pembelajaran

Pengalaman merupakan hal yang pernah terjadi pada seseorang dalam hidupnya, pengalaman bisa berupa pengalaman bahagia dan juga pengalaman pahit, pengalaman merupakan salah satu penerapan pembelajaran, karena dengan pengalaman kita bisa mengevaluasi diri kita, mendapatkan sesuatu yang baru dari pengalaman yang kita dapatkan, namun apabila kenangan tersebut adalah kenangan pahit atau menyedihkan biasanya menimbulkan trauma pada seseorang yang mengakibatkan seseorang tersebut enggan melakukannya kembali.
Baik itu pengalaman yang menyenangkan atau menyedihkan keduanya memiliki arti pembelajaran, karena dari pengalaman tersebut kita bisa memperbaiki dan melihat sejauh mana kesalahan dan kekurangan kita. Bisa mengevaluasi diri kita. Seperti kata pepatah yang pernah saya dengar bahwa  pengalaman adalah guru terbaik. Jadi ibarat disekolah kita mendapatkan ilmu oleh seorang guru, namun dengan pengalaman ini kita bisa mendapatkan ilmu secara tidak langsung.
Pengalaman menyedihkan bisa mengakibatkan seseorang ingin melupakannya, namun, seberapa keras kita melupakannya  pengalaman tersebut akan tetap ada pada diri kita yang berupa kenangan, mungkin kita sesaat bisa melupakannya, tapi suatu saat kemudian kita juga akan mengingatnya kembali.

Senin, 14 November 2016

Tingkatan Teman dalam Hidup



Tingkatan Teman dalam Hidup

Teman merupakan seseorang yang sangat dibutuhkan oleh kita untuk menjalani kehidupan kita, tanpa adanya teman, mungkin kita merasa hidup ini membosankan. Tapi, teman itu bisa kita bagi dalam beberapa tingkatan.
Teman biasa, menurut saya teman biasa itu bisa dikatakan orang yang baru kita kenal kemudian menjalin interaksi dengan kita namun hanya sesaat, setelah tujuan dari kita sudah ada, maka pertemanan tersebut bisa saja berakhir. Teman yang seperti ini bisa saja hanya ada saat kita memiliki misi yang sama, sehingga kita sering berinteraksi dengannya, tapi tak jarang juga akibat dari masalah yang sama pertemanan ini bisa menjadi persahabatan
Teman dekat, teman dekat bisa artikan sahabat, mereka berbeda dengan dengan teman biasa, jika teman biasa hanya mau bersama kita saat ada hal atau tujuan yang sama, tapi sahabat apapun yang kita lakukan selalu dilakukan bersama meskipun dengan tujuan yang berbeda dalam arti saling melengkapi.  Sahabat mereka tidak peduli dengan keburukan atau masalah yang sedang dihadapi dengan sahabatnya tersebut, karena seorang sahabat akan selalu ada untuk menolongnya. Bahkan mereka rela untuk berbagi masalah dengan sahabatnya untuk dipecahkan bersama-sama.
Yang jelas dalam hidup kita, kita membutuhkan keduanya, baik teman biasa maupun teman dekat/sahabat, kehidupan kita akan terasa lebih bermakna dengan kehadiran mereka, tanpa mereka kita tidak bisa merasakan arti kehidupan yang sesungguhnya, mendapat cerita-cerita baru dari teman, pengalaman yang menyenangkan yang dilakukan bersama teman atau sahabat yang kenangan tersebut terlalu indah untuk dilupakan. Ini adalah pendapat penulis, jika ada kesalahan dalam perkataan mohon dimaafkan J

Interaksi yang Baik



Interaksi yang Baik

Manusia adalah makhluk sosial yang dalam kesehariannya setiap aktifitasnya selalu berhubungan antara manusia yang satu dengan yang lainnya. Terjadinya interaksi manusia merupakan hal yang sangat wajar dalam kehidupan ini, komunikasi menjadi hal yang sangat penting untuk melakukan interaksi tersebut, tanpa adanya komunikasi tidak akan pernah terjalin interaksi antar manusia.
Bahasa yang baik dan mudah dipahami merupakan kunci sukses dari komunikasi, bahasa yang baik dan benar akan memudahkan orang tersebut dalam berkomunikasi, namun, apabila bahasa yang digunakan dalam komunikasi tersebut sulit dimengerti oleh komunikator maka akan sulit pula orang tersebut dalam berkomunikasi.
Selain komunikasi, terjadinya teraksi selalu terjadi antara manusia, minimal dua orang, jika hanya satu orang maka itu bukan dikatakan interaksi. Hubungan yang baik antara manusia yang satu dengan yang lainnya akan terjalin sebuah kerjasama  yang hal itu bisa mengarah kepada hal yang positif dan juga negatif,  kerjasama yang mengarah kepada hal yang negatif inilah yang sebainya tidak dilakukan, karena bisa membawa dampak negatif bagi diri kita sendiri, yang mungkin akibatnya sangat buruk bahkan mengancam kehidupan kita.
Dalam berinteraksi perlu juga diperhatikan dengan siapa kita berinteraksi, jangan sampai interaksi yang kita lakukan dengan orang tersebut malah membuat kita terjerumus dalam hal yang tidak baik. Sama halnya dengan pergaulan kita harus pandai-pandai memilih teman agar kita bisa selamat dari pergaulan bebas yang  belakangan ini sangat populer terutama dikalangan remaja yang memiliki pengaruh negatif apabila salah dalam memilih.

Pendidikan bagi Kalangan Ekonomi Bawah






Pendidikan bagi Kalangan Ekonomi Bawah
Pendidikan merupakan hal yang sangat dibutuhkan bagi manusia, pendidikan menjadikan manusia itu berpengetahuan, pandai, dan kritis. Namun, bagi sebagian orang menganggap pendidikan bukanlah hal yang sangat harus dimiliki oleh setiap orang, karena bagi mereka pendidikan bukanlah hal yang sangat penting bagi kehidupan mereka.
Seseorang yang menganggap pendidikan bukanlah hal yang sangat penting bagi dirinya, ialah dia yang selalu memikirkan bagaimana dia hidup dengan makan dan minum, tanpa melakukan hal lain. Seseorang tersebut beranggapan asalkan dia bisa hidup dengan makan, maka itulah arti kehidupan baginya. Hal ini biasa dialami oleh orang-orang yang memiliki keterbatasan ekonomi yang tidak mampu dalam menjalani kehidupannya secara layak. Mereka bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya tapi tanpa memikirkan bagaimana arti kehidupan yang sesungguhnya.
Seperti yang bisa kita lihat dilapangan. Banyak anak-anak yang putus sekolah hanya untuk bekerja dan mencari uang untuk kehidupannya, sampai ada diantara mereka yang rela jadi seorang pengemis dijalanan. Tak jarang dari mereka melakukannya akibat dari tuntutan ekonomi keluarga. Hal ini memang menjadi perhatian dunia pendidikan, terlebih lagi demi terwujudnya negara yang maju. Membutuhkan pendidikan untuk memperbaiki negara tersebut agar lebih baik. Upaya pemerintahpun telah banyak dilakukan, namun tak sepenuhnya bisa terlaksana dengan baik. Tidak hanya dari pihak pemerintah tetapi juga masyarakat dari negara tersebut ikut berpasrtisipasi dalam pendidikan demi terwujudnya negara yang maju dan berkualitas.

Pendidikan Berorientasi pada Pengajaran



Pendidikan Berorientasi pada Pengajaran
Sistem pendidikan yang ada saat ini tidak pernah lepas dari kritik. Abdurrahman Wahid (1993) dalam sebuah seminar pendidikan di ITB Bandung mengatakan bahwa output pendidikan formal kita lebih berupa “ mozaik” saja, konvergen dan miskin divergensi. Mengapa demikian, karena uotput pendidikan sudah terlanjur di standarisasikan oleh pemerintah. Oleh karena itu cenderung konvergen, karena terorientasi pada kuantitas nilai yang telah ditetapkan standarnya. Output pendidikan yang divergen bisa diwujudkan dengan optimalisasi setiap potensi yang dimilki manusia, setiap manusia memiliki potensi yang beragam dan tentunya perlu diaktualisasikan secara tepat dan proporsional. Mustahil potensi yang dimiliki siswa beraktualisasikan jika guru-gurunya tidak berperan sebagai pendidik yang melek pedagogik (ilmu mendidik). Dr. Ilfiandra, M.Pd salah satu rekan sejawat pernah memberikan inspirasi kepada penulis, bahwa guru-guru di Indonesia tidak proferssional, mereka lebih cocok dijuluki “tukang ajar”. Sekilas terdengar “kasar” dengan kata “tukang ajar”, mengapa demikian, layaknya tukang, ia hanyalah pelaksana program, pengetahuan sudah disusun sedemikian rupa oleh pemerintah, tugas guru “tukang ajar” hanya bertugas mengajarkan pengetahuan itu kepada siswanya dengan cara yang konvensional, ya diajarkan, dituturkan, diberikan ala kadarnya pada siswa. Jadi ujung-ujungnya pendidikan turun pangkat jadi pengajaran, pengajaran turun pangkat lebih rendah lagi jadi pelatihan soal jika UN mendekat. Kesimpulannya pendidikan yang berorientasi, Membunuh siswa sebagai manusia, membendakan mereka.
Daftar Pustaka
Kesuma, Dharma dan Teguh Ibrahim. 2016. Struktur Fundamental Pendagogik. Bandung: PT Refika Aditama.